Mengembara di Lautan Akibat Pandemi Membuat Orang Ini Hampir Putus Asa

Mengembara di Lautan Akibat Pandemi Membuat Orang Ini Hampir Putus Asa

Mengembara di lautan akibat pandemi tak pernah terbayangkan, karena seharusnya dapat menjadi sebuah petualangan seru sekaligus menegangkan karena dapat membuka wawasan kita seluas-luasnya. Segalanya berubah menjadi malapetaka ketika seorang warga negara Singapura bernama Wong terjebak di lautan akibat pandemi merebak ke seluruh dunia tanpa ampun.

Wong hanyalah seorang pria yang ingin menghabiskan masa tuanya dengan bersenang – senang menikmati hidup dan mensyukuri keindahan alam. Ia memiliki rencana besar yang sebelumnya belum pernah ia lakukan: mengembara mengarungi lautan Pasifik selama tiga tahun tanpa perlu dipusingkan oleh hiruk pikuk perkotaan.

Mengembara di Lautan Akibat Pandemi Membuat Orang Ini Hampir Putus Asa

Tanpa pernah menyangka bahwa bencana sedang menunggunya di masa depan, Wong memutuskan untuk berlayar pada tanggal 2 Februari 2020 silam. Usianya saat itu telah menginjak 59 tahun, dan segalanya telah ia persiapkan secara matang dan penuh perhitungan, mulai dari persediaan bahan bakar hingga bahan makanan untuk beberapa bulan.

Tidak ingin menyepelekan keadaan barang sedetik pun, Wong juga memantau kondisi cuaca setiap titik pemberhentian kapalnya sepanjang rute perjalanan. Tujuan akhirnya adalah Polinesia, penuh percaya diri berlayar menggunakan yacht mewah miliknya, dan setidaknya membutuhkan empat bulan dari Singapura untuk dapat mencapai lokasi yang ia inginkan tersebut.

Mengembara di Lautan Akibat Pandemi dan Terombang-Ambing Tanpa Arah

Tanpa menyadari bahwa nanti dirinya akan terjebak dalam situasi mengembara di lautan akibat pandemi, Wong bersikeras akan mewujudkan rencana besarnya. Ia mengajak serta dua orang temannya untuk pergi bersama mengarungi luasnya samudera, lalu memilih untuk berlabuh di antara Indonesia dan Papua Nugini pada akhir Februari.

Pada saat itu, ia hanya berniat membeli bahan bakar maupun persediaan makanan di Papua Nugini karena miliknya hampir habis. Beberapa hari sebelum sempat tiba di sana, kemudi otomatisnya tiba-tiba mengalami kerusakan sehingga harus mengemudikan kapal secara manual atau dipastikan ia akan tersesat.

Mengembara di Lautan Akibat Pandemi dan Terombang-Ambing Tanpa Arah

Sedikit lagi Wong hampir mencapai daratan Papua Nugini, namun betapa terkejutnya ia saat mengetahui bahwa negara tersebut melarang kapal miliknya untuk berlabuh. Masih belum sadar akan apa yang terjadi, Wong hanya mengalah dan mencoba mencari pulau terdekat asalkan bisa beristirahat untuk sementara saja barang sejenak.

Daripada kisah pengembara buta yang juga punya impian berkeliling dunia, kondisi Wong jauh lebih memprihatinkan karena berulang kali mengalami penolakan saat ingin mendarat. Pulau terpencil yang jauh dari peradaban sekalipun melarang dirinya untuk menepi karena khawatir bahwa kami akan menularkan virus kepada keluarga mereka.

Mengalami Pengusiran Oleh Sejumlah Pulau Terpencil

Wong sama sekali tidak menyangka bahwa dirinya harus mengembara di lautan akibat pandemi, belakangan baru menyadari bahwa seluruh pulau di wilayah Pasifik Selatan telah menjalankan karantina. Saat itu mustahil baginya untuk kembali ke Singapura karena sudah sampai separuh perjalanan, maka dari itu ia memutuskan untuk langsung ke pemberhentian berikutnya yaitu Tuvalu.

Akibat dari berbagai penolakan, Wong hampir sekarat sebab perjalanan ke Tuvalu memakan waktu hingga mencapai dua minggu lamanya dengan keadaan terbatas. Segala rencana matang yang telah ia perhitungkan kini rusak berantakan, sayuran mulai membusuk, dan kini yang tersisa hanyalah beberapa makanan kaleng di kulkas.

Mengembara di Lautan Akibat Pandemi Mengalami Pengusiran

Sesampainya di Tuvalu, lagi-lagi ia harus menerima penolakan dan diusir oleh pihak berwenang tanpa memedulikan bagaimanapun keadaan sang pengembara tersebut. Wong setengah memohon untuk memberikan keringanan terhadapnya, kemudian membayar US$1,400 kepada petugas untuk menukarnya dengan seribu liter diesel dan sejumlah bahan persediaan makanan sebulan.

Perjalanannya pun mulai menunjukkan titik terang manakala Kepulauan Fiji menyetujui permohonan darinya untuk menepi dan beristirahat. Tepat pada tanggal 29 April 2020, Wong akhirnya dapat menghembuskan napas lega setelah nyawanya terancam selama tiga bulan berturut – turut.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *