Perjalanan Pengembara Masehi Menemukan Arti Bahagia

Perjalanan pengembara masehi sangatlah menarik untuk kita ikuti jalan ceritanya karena pasti ada sesuatu hal bisa kita petik dari situ. Salah seorang cendekiawan asal Eropa itu telah tertuang ceritanya secara lengkap dalam sebuah buku bertajuk al-Kuukhul Hindi dengan arti sebuah gubuk alias pondokannya versi orang India.

Pada buku itu kita dapat menemukan kisah menarik dari seorang masehi, yaitu pengikut setianya Nabi Isa yang hidup nomaden dari barat hingga menuju timur. Pengembara masehi tersebut telah berkeliling dunia seperti misalnya sebut saja Mesir, daerah Suriah, lalu merembet ke negara – negara besar di sekitarannya sehingga membuatnya makin tambah wawasan dan makin kaya akan ilmu pengetahuan.

Perjalanan Pengembara Masehi Untuk Mendapatkan Jawaban Kehidupan

Ia rela menjalani perjalanan panjang ratusan hingga ribuan kilometer jauhnya hanya demi menemukan arti dari sebuah kebahagiaan yang sejati dalam hidup. Dalam bahasa arabia, hal tersebut juga dapat kita terjemahkan ke dalam istilah bernada serupa yaitu al-haqq, dan telah menjadi filosofi hidup bangsa Arab selama ratusan tahun lamanya.

Sepanjang pengembaraannya yang tak kenal lelah siang dan malam, kaum masehi itu menemui banyak sekali manusia dengan beragam latar belakang. Contohnya yaitu seperti perbedaan adat istiadat, budaya, kepercayaan, di mana semuanya itu bersifat sangat kontras sehingga menimbulkan kemajemukan yang justru baik bagi dirinya untuk menambah kebijaksanaan dari segudang sumber.

Pengembara masehi ini pun menyempatkan diri untuk berbincang dan bertukar pikiran dengan para pemeluk agama lain seperti kristen, islam, hingga yahudi sekalipun. Inilah awal mula dari segalanya, manakala sang masehi kebingungan menghadapi perbedaan cara pandang mereka dalam menilai hakikat sejati daripada sebuah kebenaran dalam hidup.

Perjalanan Pengembara Masehi Untuk Mendapatkan Jawaban Kehidupan

Perjalanan pengembara masehi masih berlanjut dalam rangka ingin menjawab pertanyaan yang selama ini mengganjal dalam hatinya selama ia hidup tapi jauh dari dengan permainan judi domino qq online terbaik dan juga memang ketika Bandar Dominoqq Online Terbesar di Indonesia bisa memberikan keunungan yang sangat banyak. Meskipun terdengar klise, ia bagaikan setali tiga uang dengan salah satu lirik dalam lagu terkenal milik Agnes Monica yang berbunyi demikian: di manakah letak surga itu?

Sampai pada akhirnya ia berlabuh pada sebuah kawasan di daerah India sehingga takdir mempertemukannya dengan sosok brahmin. Ia adalah pendeta beraliran agama Hindu dengan kepemilikan kasta tinggi sehingga tingkat kesuciannya sangatlah dihormati oleh penduduk di negara India bahkan hingga detik ini pada abad 21.

Perjalanan Pengembara Masehi Menemukan Arti Bahagia

Awalnya, pengembara masehi ini tidak diperkenankan menemui langsung para brahmin karena warga India menjunjung tinggi sistem kasta. Peraturannya cukup jelas, yaitu siapapun tidak bisa sembarangan untuk berhadapan dengan golongan brahmin karena mereka khawatir akan mengotori kesuciannya dan menghilangkan sisi magisnya.

Tradisi maupun adat istiadat yang berkembang di wilayah tersebut menyatakan ketentuan seputar konsultasi dari rakyat jelata. Mereka hanya boleh paling mentok berhubungan dengan pemuka brahmana apabila ingin mendapatkan pencerahan mengenai masalah kehidupan yang rumit dan menghimpit hidupnya.

Sang pengembara taat pada aturan yang berlaku dan tidak ingin lancang melanggar norma hukum tidak tertulis sebab ia menghindari masalah. Pengembara masehi hanya tersenyum simpul lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, kemudian dengan tertib ia mengikuti antrian mulai dari barisan paling belakang hanya demi memenuhi keinginannya bertemu dengan pimpinan para brahmin.

Kesabaran Yang Berbuah Cemoohan Dari Pemuka Agama Lain

Perjalanan pengembara masehi tidak akan berarti apabila ia tidak punya kesabaran cukup tinggi apabila hanya sekedar untuk mengantri. Sayangnya, ia sangat kecewa manakala telah mencapai gilirannya untuk bertanya mengenai kebenaran justru mendapatkan tertawaan maupun olok – olok karena brahmin menganggap pertanyaannya tidak berbobot.

Menyadari bahwa tidak ada yang bisa ia pelajari dari kondisi semacam itu, pengembara masehi melanjutkan perjalanannya sesegera mungkin tanpa basa basi lagi. Takdir mempertemukan ia dengan seorang wanita yang sedang menangis di pinggir jalan karena suaminya mati dalam sebuah insiden kebakaran.

Perjalanan Pengembara Masehi Berbuah Cemoohan

Pengembara itu menanyakan alasan si wanita menangis, dan ternyata bukanlah karena kehilangan melainkan karena ia tidak ikut mati bersama suaminya. Menurut tradisi setempat, wanita yang menolak mati bersama suaminya akan mendapat kutukan menjadi najis dan harus dikucilkan oleh penduduk sekitar tempat tinggalnya selama – lamanya.

Merasakan simpati maupun empati mendalam, sang pengembara berkata bahwa ia pun dianggap najis oleh kelompoknya sehingga terbuang sama persis seperti wanita itu. Mereka pun pergi bersama – sama mengembara untuk mencari tempat ideal menjalani hidup yang penuh kebahagian versi mereka sendiri.

Keduanya saling jatuh cinta dan memutuskan untuk menikah, kemudian menetap pada suatu tempat terpencil di padang gurun antah berantah. Mereka dikaruniai beberapa orang anak dan hidup tenang tanpa pernah dipusingkan dengan drama kehidupan dari masyarakat yang mulai bobrok dan toxic setiap harinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *