Petualangan Ibnu Battuta Mendalami Islam Setelah Naik Haji

Petualangan Ibnu Battuta Mendalami Islam Setelah Naik Haji

Petualangan Ibnu Battuta mendalami islam kali ini akan melanjutkan cerita sebelumnya mengenai awal kisah legenda pengembara musafir terkenal yang sudah pernah kami bahas. Terdapat sebuah memoar berjudul Rihla yang menjabarkan bagaimana secara tiba – tiba Ibnu Battuta merasa terpanggil ingin segera berangkat menuju tanah suci Mekkah.

Meskipun berat hati, namun Ibnu Battuta terlanjur membulatkan tekad dengan maksud mulia ingin menjadi pribadi lebih baik dari pendalaman ilmu agama. Catatan terhadapnya menuliskan bahwa estimasi keberangkatannya yaitu pada 2 Rajab 725 HIjriah yang mana jika kita adaptasikan ke kalender gregorian maka akan muncul tanggal 14 Juni 1325.

Petualangan Ibnu Battuta Mendalami Islam Setelah Naik Haji

Hasrat yang bergejolak di dalam dadanya telah membawa Ibnu Battuta untuk meneruskan kegiatan berkelana meskipun dirinya telah menunaikan ibadah haji. Sebuah pilihan bijaksana, karena dengan demikian ia jadi banyak menerima ilmu tentang islam secara lebih terperinci karena menemukan banyak wilayah pusat penyebaran syiar dari seluruh dunia.

Saking cintanya dengan ilmu pengetahuan, Ibnu Battuta tak kenal lelah menjelajahi seluruh dunia hingga sampai pada perbatasan antara India dan China. Seperti kita ketahui, kedua negara tersebut didominasi oleh penganut situs judi slot online Hindu serta pengikut Budda sehingga pastinya tantangan yang ia terima pastinya jauh lebih hebat luar biasa.

Bnyak sekali penggemar dari cerita petualangan ibnu ini berasal dari para pemain game IDN POKER indonesia. Cerita ini sering mereka baca ketika sedang istirahat dari poker online terbaik yang selalu mereka mainkan itu.

Petualangan Ibnu Battuta Mendalami Islam Sembari Bertukar Wawasan

Berdasarkan sumber terpercaya, Ibnu Battuta lahir pada 25 Februari 1304, menguatkan fakta bahwa pertama kali petualangan Ibnu Battuta mendalami islam memulai perjalanan pada usia 21 tahun. Ia merupakan anak dari keturunan suku Berber, atau masyarakat setempat lebih familiar dengan sebutan Lawata, sebuah klan ternama di negeri Maroko.

Keluarga Ibnu Battuta sebagian besar adalah seorang cendikiawan, banyak mengenyam pendidikan berkualitas yang berhubungan dengan ilmu hukum. Sepanjang dirinya masih terhitung seorang remaja, gurunya banyak sekali menanamkan nilai – nilai luhur serta etika daripada seorang sosok berpendidikan.

Petualangan Ibnu Battuta Mendalami Islam Sembari Bertukar Wawasan

Tangier sesungguhnya memiliki akses terbatas seputar dunia pendidikan seantero Afrika Utara, menyebabkan banyak masyarakat kurang terdidik. Namun, bukan berarti Tangier sama sekali bersih dari populasi cendikiawan, salah satunya adalah keluarga Ibnu Battuta yang menyebabkan menjadi cukup terpandang pada masanya.

Orangtuanya masuk dalam jajaran kelompok elit yang mendapatkan kursi kehormatan untuk berdiskusi kepada para pejabat pemerintahan. Meskipun tinggal di Afrika, Ibnu Battuta rajin memakai bahas Arap dalam percakapan sehari – hari, menyebabkan caranya berbicara telah mencapai pusat kematangan dan bertingkah laku layaknya seorang sarjana walau terhitung masih belum dewasa.

Menghabiskan Setengah Kehidupan Menjelajahi Dunia

Petualangan Ibnu Battuta mendalami islam menghabiskan kira – kira setengah dari total masa kehidupannya sebagai penjelajah dunia. Sedari awal, ia sama sekali tidak pernah berniat mengadakan kunjungan sebagai wisatawan yang notabenenya hanya sekedar ingin menikmati alam, hiburan, serta mencari suasana baru.

Cara ia bertandang ke sebuah negeri lebih condong sebagai sebuah ulama lengkap berikut atribut pendidikannya sebagai orang terpelajar. Bertahun – tahun ia pindah dari suatu tempat asing ke tempat lainnya, sambil konsisten mengajarkan ajaran murni islam tanpa distorsi sebab ingatannya termasuk sangat kuat dalam sebuah situs resmi milik nya dalam link https://www.17hertz.com/.

Petualangan Ibnu Battuta Mendalami Islam Menghabiskan Setengah Kehidupan Menjelajahi Dunia

Dalam berbagai kesempatan, Ibnu Battuta seringkali muncul ke khalayak ramai dengan membawa peran penting misalnya saja seorang penasihat kesultanan maupun orang kepercayaan para pemimpin. Beberapa kali pula sempat mengemban tugas menjadi utusan antar penguasa, tapi fokus utamanya adalah memimpin kemajuan dunia islam selaku pejabat agama.

Tak pernah sekalipun ia merasa paling pintar dan menolak untuk bertukar pikiran, karena selalu menganggap dirinya haus ilmu sehingga banyak ulama akrab padanya. Jika kita totalkan secara keseluruhan, Ibnu Battuta telah sukses berkeliling dunia hingga tiga puluh tahun lamanya, jangkauannya setara dengan jumlah 44 negara pada masa sekarang.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *