Tujuan Pengembaraan Seno Gumira Ajidarma Sepanjang Hidupnya

Tujuan pengembaraan Seno Gumira Ajidarma begitu unik dan mampu membuat siapapun yang mengetahuinya akan berdecak penuh kagum terhadapnya. Ia merupakan sosok friendly dengan suara renyah dan senantiasa melontarkan tawa yang energinya meledak – ledak, membuat orang langsung merasa dekat terhadapnya.

Meski rambutnya kini mulai didominasi oleh warna putih keperakan, Seno Gumira tetap cuek membiarkannya tumbuh panjang tergerai. Dirasa belum cukup nyentrik, masih ada pula penambahan aksesoris berupa anting – anting berwarna emas mengilap berkelap kelip pada telinga sebelah kirinya yang bergerak bebas.

Tujuan Pengembaraan Seno Gumira Ajidarma

Seno Gumira Ajidarma memang dapat terbilang sebagai sosok manusia serba bisa jika itu menyangkut seputar bidang sastra yang begitu ia kuasai. Tak hanya itu, selain jurnalistik, Seno Gumira juga berbakat dalam hal seni fotografi, membuatnya menjadi salah satu pencipta cerpen terbaik dalam negeri yang seringkali mendapat ganjaran berupa penghargaan bergengsi.

Semenjak pertama kali lahir ke dunia pada 19 Juni 1958, Seno Gumira lambat laun mulai jatuh cinta terhadap dunia sastra sekaligus punya ketertarikan terhadap politik. Kedua aspek tersebut ia gabungkan menjadi sebuah karya sastra bernilai tinggi lengkap berikut sentilan sarkas ala gaya penulisannya yang mendalam dan penuh makna.

Sepanjang kariernya, Seno dianggap jenius karena dapat memanfaatkan dongeng sebagai perantaranya dalam mengomentari masalah silih berganti di Indonesia. caranya bercerita begitu lancar bagaikan air mengalir tanpa batas; bahasanya rapi, teratur, serta apa adanya, membuatnya diganjar penghargaan sebagai Penulis Cerpen Terbaik Kompas 2010 lalu.

Tujuan Pengembaraan Seno Gumira Ajidarma Masuk Jalan Wartawan

Kendati dirinya sangat terkenal karena kemampuannya menulis entah cerpen, novel, maupun essay panjang mendetail, tujuan pengembaraan Seno Gumira Ajidarma lebih menjurus profesi wartawan. Sama sekali bukan berita mengejutkan, pasalnya ia telah berkecimpung sebagai wartawan semenjak dirinya masih berusia 19 tahun dan terhitung sangat muda untuk ukuran pada masanya.

Hasratnya dalam menjalani hidup telah membawa Seno Gumira jadi orang multi talent; rutin menulis cerpen, bekerja sebagai jurnalis, sembari menuntut ilmu di Institut Kesenian Jakarta jurusan sinematografi. Kariernya sangat luar biasa, sempat mengabdi sebagai wartawan freelance di harian Merdeka 1977, buletin mingguan berjudul Zaman, hingga berkontribusi dalam bangkitnya majalah Jakarta Jakarta 1985 silam.

Tujuan Pengembaraan Seno Gumira Ajidarma Masuk Jalan Wartawan

Dari semua kebisaannya, Seno lebih nyaman mendapat sebutan sebagai wartawan saja karena dirasa simpel dan tidak muluk – muluk. Baginya, sebagian besar kegiatan sehari – hari berhubungan dengan menulis, sehingga sangat cocok dengan profesi wartawan yang kerjaannya memang menulis.

Seno berulang kali mengutarakan isi hatinya pada setiap kesempatan wawancara mengenai polemik akan sebutan terhadap dirinya. Ia mengaku jengah menerima julukan sebagai sastrawan karena dirasa terlalu mengagungkan diri, sangat bertolak belakang dengan sifatnya yang ingin tetap low profile dan bekerja di balik layar.

Sekilas, prinsipnya terasa mirip dengan petualangan Ibnu Battuta mendalami islam yang sepanjang dakwahnya tidak pernah mengaku sebagai ulama, meski para pendengarnya menyebutnya demikian. Begitu pula penolakannya terhadap penyebutan penulis maupun penyair, karena semua itu baginya terasa sangat feminin, tidak cocok dengan perawakannya yang berjiwa bebas dan lepas dari kungkungan.

Ketika Jurnalisme Dibungkam Maka Saatnya Sastra Berbicara

Salah satu mahakarya sebagai hasil dari tujuan pengembaraan Seno Gumira Ajidarma adalah buku berjudul Saksi Mata lansiran 1994. Berisikan tiga belas cerpen fenomenal, buku ini mengantarkan Seno kepada sebuah penghargaan Dinny O’Hearn Prize for Literary tahun 1997 dan dibaca oleh jutaan pasang mata dari seluruh penjuru dunia.

Sebagian besar karya cerita pendek pada Saksi Mata menggambarkan kasus kekerasan yang terjadi di Timor Leste secara tersirat, sebab tak mungkin mengumbarnya dalam bentuk laporan berita. Pada masa ketika almarhum Soeharto masih berkuasa, Indonesia sempat mengalami kemunduran dalam hal ini karena jurnalisme jelas terbungkam dan dilemahkan sehingga tak dapat menyuarakan pendapatnya.

Tujuan Pengembaraan Seno Gumira Ajidarma Saatnya Sastra Berbicara

Awal tahun 1992, Seno mesti berlapang dada menerima kenyataan bahwa ia dirumahkan dari jabatannya sebagai Redaktur Pelaksana Jakarta Jakarta. Hal ini berhubungan erat dengan idealismenya yang bersikeras ingin menyiarkan berita mengenai kasus kekerasan pada Insiden Dili tahun 1991 setahun sebelumnya.

Semenjak itulah, ia memiliki prinsip untuk mencari solusi lain dalam rangka membawa semangat berkobar dalam dirinya sebagai jurnalis sejati. Ungkapannya kini menjadi salah satu memoar terkenal yang berujar bahwa, ketika jurnalisme dibungkam maka saatnya sastra berbicara dan menjadi judul buku beliau tahun 1997.

Orde Baru merupakan masa tersuram bagi dunia jurnalisme, namun yang paling merasakan dampak terbesar adalah harian Kompas Gramedia. Pada saat itu, Kompas merupakan salah satu harian lokal yang paling berani membeberkan ‘borok’ pemerintah dengan apa adanya tanpa mengalami proses sensor walau sudah mendapatkan ancaman, sampai pada akhirnya harus mengalah dan ikut terbungkam selama beberapa waktu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *